Senin, 16 Mei 2011

Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum


Pengertian Integrasi Ilmu

                Integrasi ilmu agama dan umum hakikatnya adalah usaha menggabungkan atau menyatupadukan ontologi,epistemologi dan aksiologi ilmu-ilmu pada kedua bidang tersebut.Itegrasi kedua ilmu tersebut merupakan sebuah keniscayaan tidak hanya untuk kebaikan umat islam semata,tetapi bagi peradaban umat manusia seluruhnya.Karena dengan integrasi,ilmu akan jelas arahnya,yakni mempunyai ruh yang jelas untuk selalu mengabdi pada nilai-nilai kemanusiaan dan kebajikan jagat raya,bukan malah menjadi alat dehumanisasi,eksploitasi,dan destruksi alam.Nilai-nilai itu tidak bisa tercapai bila dikotomi ilmu masih ada seperti yang terjadi saat ini.
                Integrasi ilmu bukan hanya tuntutan zaman,tetapi mempunyai legitimasi yang kuat secara normatif dari Al-Qur’an dan hadis serta secara historis dari perilaku para ulama islam yang telah membuktikan sosoknya sebagai ilmuan integratif yang memberikan sumbangan luar biasa bagi kemajuan peradaban manusia.
                Saat ini,bentuk integrasi ilmu masih diformulasikan baik oleh pemerintah sendiri maupun para intelektual muslim.Tawaran model integrasi yang coba dipraktekan oleh berbagai Perguruan Tinggi islam masih menyisakan perdebatan inter maupun ekstern mereka sendiri.Karenanya,model integrasi yang dipraktekan mereka merupakan hal yang belum final dan memerlukan evaluasi yang terus-menerus dari semua komponen masyarakat pendidikan Indonesia.
                Integrasi ilmu adalah keharusan bagi umat islam,oleh karenanya tanggungjawab ini bukan hanya kewajiban pemerintah semata dan Perguruan Tinggi Agama Islam,tapi juga kalangan Perguruan Tinggi Umum dan seluruh umat islam yang menginginkan kemajuan islam dan peradaban manusia yang lebih maju dari humanis.

Latar Belakang Integrasi Ilmu

                Maraknya kajian dan pemikiran integrasi keilmuan (islamisasi ilmu pengetahuan) dewasa ini yang santer didengungkan oleh kalangan intelektual Muslim,antara lain Naquid Al-Attas dan Ismail Raji’Al-Faruqi (1984: ix-xii),tidak lepas dari kesadaran berislam di pergumulan dunia global yang sarat dengan kemajuan ilmu teknologi.Ia,misalnya berpendapat bahwa umat islam akan maju dan dapat menyusul Barat manakala mampu mentransformasikan ilmu pengetahuan dalam memahami wahyu,atau sebaliknya,mampu memahami wahyu untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.
                Usaha menuju integrasi keilmuan sejatinya telah dimulai sejak abad ke-9,meski mengalami pasang surut.Pada masa Al-Farabi (lahir tahun 257 H / 890 M) gagasan tentang kesatuan dan hierarki ilmu yang muncul sebagai hasil penyelidikan tradisional terhadap epistemologi serta merupakan basis bagi penyelidikan hidup subur dan mendapat tempatnya.Gagasan kesatuan dan hierarki ilmu ini,menurut Al-Farabi,berakar pada sifat hal-hal atau benda-benda.Ilmu merupakan satu kesatuan karena sumber utamanya hanya satu,yakni intelek Tuhan.Tak peduli dari saluran mana saja,manusia pencari ilmu pengetahuan mendapatkan ilmu itu (Osman Bakar,1998:61-2).Dengan demikian,gagasan integrasi keilmuan Al-Farabi dilakukan atas dasar wahyu Islam dari ajaran-ajaran Al-Qur’an dan Hadis.
               

Empat masalah akibat dikotomi ilmu-ilmu umum dan ilmu-ilmu agama:

ü  Munculnya anbivalensi dalam sistem pendidikan islam
ü  Munculnya kesenjangan antara sistem pendidikan islam dan ajaran islam
ü  Terjadinya disintegrasi sistem pendidikan islam
ü  Munculnya inferioritas pengelola lembaga pendidikan Islam


Menurut Al-Ghazali,ilmu-ilmu agama Islam terdiri dari:

A.      Ilmu tentang prinsip-prinsip dasar (ilmu ushul) yang meliputi ilmu tauhid,ilmu tentang kenabian,ilmu tentang akhirat,dan ilmu tentang sumber pengetahuan religius.
B.      Ilmu tentang cabang-cabang (furu’) atau prinsip-prinsip cabang yaitu ilmu tentang kewajiban manusia kepada Tuhan,ilmu tentang kewajiban manusia kepada masyarakat,dan ilmu tentang kewajiban manusia terhadap jiwanya sendiri.

Al-Ghazali membagi kategori ilmu-ilmu umum kedalam beberapa ilmu yaitu:

1.       Matematika,yang terdiri dari aritmatika,geometri,astronomi dan astrologi,dan musik
2.       Logika
3.       Fisika atau ilmu alam,yang terdiri dari kedokteran,meteorologi,minerologi,dan kimia
4.       Ilmu-ilmu tentang wujud di luar alam atau metafisika,meliputi ontologi,pengetahuan tentang esensi,pengetahuan tentang subtansi sederhana,pengetahuan tentang dunia halus,ilmu tentang kenabian dan fenomena kewalian,dan ilmu menggunakan kekuatan-kekuatan bumi untuk menghasilkan efek tampak.





1 komentar: